KH Dimyati RaisKH Dimyati Rais

Oleh: Ni’amul Qohar
KH. Dimyati Ro’is atau lebih biasa disapa Mbah Dim oleh masyarakat pada umumnya, merupakan muassis Pondok Pesantren al-Fadlu wal-Fadlilah Kendal Kaliwungu, yang didirikan pada tahun 1985 M. Mbah Dim lahir di Tegal Glagah Bulukamba, Brebes Jawa Tengah, pada tanggal 5 Juni 1945. Beliau anak nomer lima dari pasangan KH. Ro’is dan Nyai Djusminah. Adapun saudara-sudaranya yaitu Nyai Khanifah, KH. Tohari Ro’is, KH. Masduki Ro’is, H. Murai Ro’is, KH. Saidi Ro’is, Nyai Khotijah, KH. Syatori Ro’is, Nyai Mukoyah, dan Nyai Daroroh.

Rihlah Keilmuan
Selain mendapat didikan dasar-dasar ilmu agama dari ayahnya, KH. Dimyati Ro’is juga menempuh pendidikan di SR (Sekolah Rakyat) sampai selesai dengan bukti mendapatakan sertifikat kelulusan. Setelah dari SR pada sekitar tahun 1956 beliau melanjutkan pendidikannya nyantri di Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal yang diasuh oleh KH. Ahmad Ru’yat. Di pesantren APIK ini beliau menghabiskan waktu kurang lebih 14-15 tahun untuk memperdalam ilmu agama.

Melalui KH. Ahmad Ru’yat beliau mendapatkan amalan Istighosah Musabbiat yang dibacakannya setiap malam Jumat Wage. Sanad istighosah ini yaitu dari KH. Ahmad Ru’yat, KH. Idris Jamsaren Solo, dari KH. Sholeh Darat Semarang. Dulu ketika Mbah Dim masih nyantri di Pesantren APIK Kaliwungu, beliau sering kali melakukan riyadhah (tirakat), baik berpuasa, dzikir maupun berziarah di Pemakaman Jabal Nur. Mbah Dim berziarah ke Makam Kiai Guru (Jabal Nur) pada sekitar jam 12 malam sampai jam 3 pagi.

Pada suatu hari ketika Mbah Dim dalam perjalanan pulang dari Pemakaman Jabal Nur menuju Pondok Pesantren APIK, di depan Makam Sunan Katong, beliau dihadang oleh segerombolan Jin. Para Jin itu menantang Mbah Dim untuk bertarung, beliau pun meladeni agar bisa segera pulang ke pondok. Setelah bertarung dan dimenangkan oleh Mbah Dim, tiba-tiba beliau jatuh pingsang tidak sadarkan diri di jalan setapak depan Makam Sunan Katong. Jalan setapak itu biasanya dilewati oleh para pedagang dari kawasan Desa Protomulyo. Mereka berdagang di Pasar Kaliwungu yang dulunya bertempat di sekitar alun-alun Kaliwungu.

Mendapati seorang santri yang tergeletak di tengah jalan, para pedagang kaget. Ketika dibangunkan Mbah Dim tidak bisa bangun-bangun, ketika diangkat tubuhnya Mbah Dim, para pedagang juga tidak ada yang mampu. Akhirnya para pedagang berinisiatif memanggil pengasuh Pondok Pesantren APIK yang merupakan gurunya Mbah Dim sendiri. Setelah mendapatkan pengaduan dari para pedagang, KH. Ahmad Ru’yat berangkat menuju Jabal Nur, dan sampai di depan Makan Sunan Katong, beliau berdoa kepada Allah SWT agar Mbah Dim bisa sadar dari pingsannya. Selang beberapa saat, Mbah Dim langsung sadar dan menyalami gurunya tersebut seraya meminta maaf telah merepotkannya. Atas peristiwa ini KH. Ahmad Ru’yat mengatakan bahwa kelak Mbah Dim akan menjadi orang besar yang sangat berpengaruh. Hasilnya bisa dilihat sekarang, Mbah Dim sekarang menjadi ulama besar yang alim allamah.

Semangatnya dalam mencari ilmu tidak berhenti sampai di Pondok Pesantren APIK saja, melainkan beliau kembali melanjutkan rihlah keilmuannya di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur yang berguru kepada KH. Mahrus Aly. Ada peristiwa aneh ketika Mbah Dim mondok di Pesantren Lirboyo, al-kisah ketika Mbah Dim sampai di Pesantren Lirboyo lalu masuk ke dalam sebuah kamar, beliau langsung terjungkal sujud dan tidak sadarkan diri selama hampir 4 bulan. Lantaran peristiwa aneh tersebut KH. Mahrus Aly melakukan shalat istikharah untuk mendapatkan petunjuk. Al-hasil KH. Mahrus Aly bermimpi bahwa Mbah Dim berada di laut dan telah meminum semua air laut tersebut sampai habis. Mbah Dunglo salah seorang ulama khos yang sangat dihormati KH. Mahrus Aly memberikan tafsiran arti mimpi tersebut bahwa Mbah Dim haram mondok di Pesantren Lirboyo. Hal inilah yang melatar-belakangi kenapa Mbah Dim mondok di Pesantren Lirboyo hanya sebentar.

Setelah bertahun-tahun mengembara mencari ilmu di tempat lain, Mbah Dim datang kembali ke Lirboyo di usianya yang ke-31 tahun untuk sowan meminta KH. Mahrus Aly meng-akadkan pernikahannya dengan putri KH. Ibadullah Irfan. Setelah acara akad nikah di Kaliwungu, diadakan pula acara tasyakuran walimah  di tanah kelahiran Mbah Dim, di Desa Tegal Glagah, Bulakamba, Brebes. Waktu itu KH. Mahrus Aly turut hadir dalam acara tersebut. Selang beberapa hari setelah acara tasyakuran walimah, KH. Mahrus Aly datang lagi di Tegal Glagah yang hanya ingin menanyakan dan memastikan perkembangan Mbah Dim setelah 15 tahun mengembara mencari ilmu di luar Pesantren Lirboyo, hasilnya benar sesuai dengan isyarat istikharah KH. Mahrus Aly, bahwa Mbah Dim menjadi ulama yang alim allamah dalam bertafaquh fiddin meneguk lautan keilmuan islam. Kemudian KH. Mahrus Aly mempercayakan pada Mbah Dim untuk mendidik putranya yang bernama KH. Abdullah Kafabihi.

Setelah dari Lirboyo, Mbah Dim nyantri lagi di Sarang selama 5 tahun yang berguru kepada KH. Imam Kholil. Berbagai ilmu di pesantren telah beliau serap dengan sempurna, seperti halnya ilmu nahwu, shorof, fiqih, tauhid, dan lain sebagainya, terlebih karya Imam Ghazali . Ketekunan, keuletan dan keistiqomahan beliau dalam belajar di pesantren telah mengantarkannya menjadi ulama yang alim allamah, memiliki pemahaman mendalam tentang keilmuan Islam. Sampai saat ini rutinan atau aktivitas istiqomahnya yaitu mulang ngaji santri di Pondok Pesantren al-Fadlu wal-Fadlilah Kaliwungu.

Bahtera Rumah Tangga
KH. Dimyati Ro’is menikah pada tanggal 1 Januari 1978 dengan Ibu Nyai Hj. To’ah, putri tunggal KH. Ibadullah Irfan dan Ibu Nyai Hj. Fatimah, sesepuh dan tokoh masyarakat Kaliwungu. Buah dari pernikahannya ini telah dikaruniai sepuluh putra-putri, yaitu H. Gus Fadlullah, H. Gus Alamudin BA, Hj. Ning Lailatul Arofah, H. Gus Qomaruzzaman, Hj. Ning Lama’atus Sobah, H. Gus Hilmi, H. Gus Qomaruzzaman, Hj. Ning Lama’atus Sobah, H. Gus Hilmi, H. Gus Thoha Mubarok, H. Gus Husni Mubarok, H. Gus M. Iqbal dan Gus Abu Khafsin Almuktafa.

Kiprah di Nahdlatul Ulama dan Partai
KH. Dimyati Ro’is juga berkiprah di Nahdlatul Ulama, berawal dari tingkat PCNU Kendal, PWNU Jawa Tengah, hingga PBNU. Beliau pernah menjadi pengurus Tanfidziyah, Syuriyah hingga Mustasyar PBNU. Pada waktu Muktamar NU di Jombang, beliau menjadi salah satu anggota Ahlul Hal Wal Aqdi (AHWA).

Perjuangannya dalam dunia politik pernah menjadi pengurus DPW PPP Jawa Tengah, DPP PKB, dan DPP PKD. Pada waktu Orde Baru, Mbah Dim pernah menjadi anggota MPR RI melalui jalur utusan yang diajukan oleh PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Setelah orde baru tumbang muncullah era reformasi, sehingga membuat para politisi dan pengurus PBNU bergerak membentuk partai baru sebagai wadah aspirasi kaum nahdliyin. Maka lahirnya PKB. Mbah Dim ikut mendeklarasikan lahirnya partai ini bersama KH. Cholil Bisri, KH. Mustofa Bisri, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Munasir Ali, KH. Muchit Muzadi, Kh. Ma’ruf Amin, KH. Ilyas Ruchiyat daln ulama lainnya.

Karomah
Seperti yang pernah diceritakan dan disaksikan langsung oleh salah satu santri beliau yang bernama Tsabit Abil Fadhil tentang karomah Mbah Dim, pada satu kesempatan telah berlangsung pengajian kitab di Pesantren al-Fadlu wal-Fadlilah yang langsung diampu oleh Mbah Dim. Halaman rumah beliau mbludak (banyak) para santri mukim maupun non mukim yang tabarukan ngaji kepada beliau. Tiba-tiba hujan sangat deras turun menyebabkan santri kocar-kacir mencari tempat untuk berteduh. Dalam kepanikan para santri, Mbah Dim langsung dawuh, “Wes wes ojo panik, mandek mandek udane!!! (sudah sudah jangan panik, berhenti, berhenti hujannya). Dan seketika itu hujan bisa berhenti. Setelah selesai pengajian, beliau kembali dawuh, “Ya Allah, monggo menawi bade nerusaken jawahipun (Ya Allah, silahkan kalau meneruskan hujannya, semoga hujan ini adalah hujan yang manfaat dan berkah).”

Pulang Ka Rahmatullah
Pada hari ini Jumat 10 Juni 2022 M atau 10 Dzul’qodah 1443 H, beliau pulang ke rahmatullah, kita baru saja kehilangan ulama yang menjadi penerang di gelapnya kehidupan dunia, kehilangan sosok teladan sepanjang hidup, kehilangan salah ilmu yang dibawa oleh ulama yang ada di muka bumi. Seperti sabdanya Rasulullah SAW “Sesungguhnya Allah SWT tidak menggenggam ilmu dengan sekali pencabutan, mencabut dari para hamba-Nya. Namun Dia menggenggam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-0rang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka tersesat dan menyesatkan.” (H.R. Al Bukhori nomor 98). Sugeng tindak Mbah Dim, Al-Fatihah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *